URGENSI
”NAWACITA” PERGERAKAN
Membangun
Kesadaran Guna Memurnikan Jati Diri Mahasiswa
Mahasiswa
adalah sosok yang mempunyai tugas yang mulia. Gelar maha yang disisipkan pada
sebuah pangggilan ini bukan tidak memiliki arti atau hanya imbuhan belaka,namun
gelar yang tersurat secara otomatis setelah mereka melanjutkan kewajiban
belajar selama 12 tahun ini, memiliki seumbruk kewajiban yang seyogyanya
harus disadari. Disamping mereka di tuntut untuk menuntut ilmu dalam perguruan
tinggi, mereka juga mengemban amanah sebagai agen of change dan agen of control
social. Kehadiran sosok mahasiswa sebagai sosok yang sebenarnya selalu di
tunggu oleh masyarakat, karena dapat merubah dan bahkan dapat mengganti
kebijakan yang di turunkan oleh penguasa.
Secara
historis, peran mahasiswa dalam perubahan sosial memang tidak dapat di
remehkan. Hampir semua perubahan yang besar dan mendasar di negara ini selalu
saja melibatkan mahasiswa di dalamnya. Sebut saja, sejak taun 1908 berdirinya Boedi oetomo sebagai
awal dari munculnya sejarah nasionalisme di negeri ini. Lahirnya soempah
pemoeda , 28 Oktober 1928-yang tidak boleh kita lupakan -(untuk tidak
mengatakan di peringati)- sebagai babak baru perjuangan kebangsaan, cinta tanah
air dan kebahasaan indonesia kita, kemudian tahun 1945 melalui proklamasi
ketika sekelompok mahasiswa menekan presiden soekarno untuk segera
memproklamirkan kemerdekaan RI. Pada tahun 1965, ketika sejumlah mahasiswa
melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonosia melakukan aksi untuk menyelamatkan
bangsa ini dari perpecahan yang di lakukanoleh PKI. Hingga tahun 1997 ketika
gerakan mahasiswa kita sanggup menorehkan kembali sejarah untuk mereformasi kekuasaan
orde baru untuk menuju fajar baru kebangkitan Indonesia.
Dewasa
ini, mahasiswa banyak yang lupa akan hal itu. melihat
realitas saat ini, apa yang terjadi dengan mahasiswa? Kenapa mahasiswa seperti
singa yang kehilangan taringnya? mereka lebih memilih menjadi kaum hedonis,
oportunis dan apatis. Lebih parah lagi, mereka enjoy-enjoy saja dan tidak
menyadari akan hal itu. Ibnu Sina pernah mengatakan “saat kebodohan menguasai
kesadaran maka kesadaran memiliki hak untuk berbuat hal paling bodoh”.
Maka
dari itu kami mengangkat kata “membangun kesadaran guna memurnikan jati diri
mahasiswa” karena dengan kesadaran itu diharapkan mahasiswa akan menjadi sosok
yang utuh dan tau dimana posisi akan jatidirinya sebagai seorang mahasiswa. Kesadaran
apa yang di maksud? Sebagai makhluk tuhan yang paling istimewa manusia di
karuniai akal fikiran yang membedakan dengan makhluk-makhluk lain, dari sini
kesadaran untuk menggunakan akal fikiran sangat di butuhkan bagi Intelektualis.
Rene descartes seorang tokoh filsuf modern pernah mengatakan “Aku berfikir maka
Aku ada”. dalam hal ini awalnya, Descartes meragukan tentang pengetahuan yang
ada, dari keraguan tersebut descartes hendak mencari pengetahuan yang tidak
dapat diragukan. Yang akhirnya mengantarkan pada premisnya Cogito Ergo Sum (aku
berfikir maka aku ada).
Jati
diri yang seperti apa? Seiring degan peran seorang mahasiswa dalam isu
kepemimpinan tak pelak menemui halangan dan rintangan, globalisasi yang tengah
menyelimuti tatanan kehidupan dalam berbagai aspek masyrakat adalah tantangan
kongkrit bagi mahasisa. Eksistensi dan Idealisme akan di pertaruhkan. Sejauh
mana kokoh dalam kemurnian Insan Religius, Intelektual, Sosial dan Mandiri.
Dengan
grand tema URGENSI NAWACITA PERGERAKAN, istilah Urgensi menunjuk pada sesuatu
yang mendorong kita. Diharapkan peserta MAPABA ‘16 mengetahui pentingnya
Nawacita pergerakan. Kata Nawacita adalah istilah umum yang diserap dari bahasa
sansekerta, Nawa (sembilan) dan cita (harapan, keinginan). Jadi kata Nawacita
Pergerakan adalah sembilan alat untuk terciptanya sebuah harapan, yang di
maksudkan untuk menjadi hal paling mendasar dan fundamental bagi pola gerak dan
pemikiran kader PMII. Sembilan poin yang di harapkan adalah dzikir, fikir, amal
sholeh. Jujur, kebenaran, keadilan. Taqwa, Intelektual, Profesional.
Sebagaimana
dzikir memiliki esensi bahwa setiap insan harus dan selalu mengingat akan
keberadaan Allah SWT sebagai sang khaliq. Fikir adalah sebuah istilah dimana
insan dikatakan ada apabila bisa dan mampu untuk berfikir sebagai esensi dari
keberadaan manusia itu sendiri. Amal sholeh merupakan titik dimana kebanyakan
kader mengasumsikannnya sebagai sebuah hasil maksimal dari setiap proses yang
dia lalui. Ketiga poinini adalah sesuatu yang harus di tancapkan oleh kader
PMII sejak awal.
Selanjutnya
Kejujuran, Kejujuran disini merupakan suatu nilai mutlak yang harus dijadikan karakter untuk tiap-tiap kader dalam
kehidupan, yang kemudian akan tercapainya suatu Kebenaran mutlak di pola pikir kader maupun implementasikan masing-masing
kader dalam bergerak. Keadilan adalah sebuah wujud dari kejujuran dan
kebenaran, kemudian menjadi pemahaman bersama bahwa sebuah keadilan harus benar-benar
ditegakkan oleh tiap-tiap kader PMII.
Untuk
mencapai kesempurnaan dari poin-poin diatas, ada tiga poin terhir yang harus
benar-benar diimplementasikan yaitu mengetahui tentang siapa, apa dan bagaimana
menempatkan diri mereka untuk melihat kondisi yang ada saat ini, yaitu Taqwa,
intelektual dan Profesional. Ketaqwaan merupakan hal yang sudah harus di pahami
oleh setiap kader, hal ini sudah termaktub dalam tujuan PMII itu sendiri.
Intelektual adalah sebuah istilah dimana didalamnya selalu tersirat rasa kehausan
akan kapasitas dan kompetensi Intelektual kader harus berdaya dan benar – benar
difungsikan baik sesuai dengan disiplin ilmu yang bidangi atau yang lainnya,
untuk kemudian dapat menjawab dinamika organisasi dan hal kemasyarakatan yang
akan mereka pahami nanti. Profesional juga hal yang harus dipahami oleh
tiap-tiap kader PMII, dalam arti Profesionalitas adalah hal yang penting
sebagai pembungkus cantik setiap gerak kader PMII, karena arti profesional
sangatlah luas dan implementasinya dilakukan bukan hanya ketika bergerak
bersama namun dalam keadaan individual di tengah banyaknya intrik sifat
profesional harus ditekankan guna nantinya akan membangun konstruk sosial yang
baik.
Semua
poin tersebut sudah sangat jelas bahwa, sembilan poin ini merupakan hal yang
fundamental bagi pola gerak dan pemikiran kader PMII. Sesuai dari abstraksi
karakter PMII yang tetap berlandaskan manhaj al-fikr ahlusunnah waljamaah.
Disusun oleh Tim SC (KAPAK'14) Mapaba 2016 PMII Cabang Surabaya Selatan.








