Pelatihan Kader Dasar Raya PMII Cab. Surabaya Selatan

Sinergi gerakan Intelektual dan Spiritual.

Harmonisasi Rayon Al-Ghozalie PMII Cabang Surabaya Selatan

Sinergi gerakan Intelektual dan Spiritual.

Kader-Kader Rayon Al-Gazali PMII Cab Surabaya Selatan

Sinergi gerakan Intelektual dan Spiritual.

Rujaan Rayon Al-Ghazali PMII Cab. Surabaya Selatan

Sinergi gerakan Intelektual dan Spiritual.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 12 Oktober 2016

NAWACITA PERGERAKAN



URGENSI ”NAWACITA” PERGERAKAN
Membangun Kesadaran Guna Memurnikan Jati Diri Mahasiswa
Mahasiswa adalah sosok yang mempunyai tugas yang mulia. Gelar maha yang disisipkan pada sebuah pangggilan ini bukan tidak memiliki arti atau hanya imbuhan belaka,namun gelar yang tersurat secara otomatis setelah mereka melanjutkan kewajiban belajar selama 12 tahun ini, memiliki seumbruk kewajiban yang seyogyanya harus disadari. Disamping mereka di tuntut untuk menuntut ilmu dalam perguruan tinggi, mereka juga mengemban amanah sebagai agen of change dan agen of control social. Kehadiran sosok mahasiswa sebagai sosok yang sebenarnya selalu di tunggu oleh masyarakat, karena dapat merubah dan bahkan dapat mengganti kebijakan yang di turunkan oleh penguasa.
Secara historis, peran mahasiswa dalam perubahan sosial memang tidak dapat di remehkan. Hampir semua perubahan yang besar dan mendasar di negara ini selalu saja melibatkan mahasiswa di dalamnya. Sebut saja, sejak  taun 1908 berdirinya Boedi oetomo sebagai awal dari munculnya sejarah nasionalisme di negeri ini. Lahirnya soempah pemoeda , 28 Oktober 1928-yang tidak boleh kita lupakan -(untuk tidak mengatakan di peringati)- sebagai babak baru perjuangan kebangsaan, cinta tanah air dan kebahasaan indonesia kita, kemudian tahun 1945 melalui proklamasi ketika sekelompok mahasiswa menekan presiden soekarno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan RI. Pada tahun 1965, ketika sejumlah mahasiswa melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonosia melakukan aksi untuk menyelamatkan bangsa ini dari perpecahan yang di lakukanoleh PKI. Hingga tahun 1997 ketika gerakan mahasiswa kita sanggup menorehkan kembali sejarah untuk mereformasi kekuasaan orde baru untuk menuju fajar baru kebangkitan Indonesia.
Dewasa ini, mahasiswa banyak yang lupa akan hal itu. melihat realitas saat ini, apa yang terjadi dengan mahasiswa? Kenapa mahasiswa seperti singa yang kehilangan taringnya? mereka lebih memilih menjadi kaum hedonis, oportunis dan apatis. Lebih parah lagi, mereka enjoy-enjoy saja dan tidak menyadari akan hal itu. Ibnu Sina pernah mengatakan “saat kebodohan menguasai kesadaran maka kesadaran memiliki hak untuk berbuat hal paling bodoh”.


Maka dari itu kami mengangkat kata “membangun kesadaran guna memurnikan jati diri mahasiswa” karena dengan kesadaran itu diharapkan mahasiswa akan menjadi sosok yang utuh dan tau dimana posisi akan jatidirinya sebagai seorang mahasiswa. Kesadaran apa yang di maksud? Sebagai makhluk tuhan yang paling istimewa manusia di karuniai akal fikiran yang membedakan dengan makhluk-makhluk lain, dari sini kesadaran untuk menggunakan akal fikiran sangat di butuhkan bagi Intelektualis. Rene descartes seorang tokoh filsuf modern pernah mengatakan “Aku berfikir maka Aku ada”. dalam hal ini awalnya, Descartes meragukan tentang pengetahuan yang ada, dari keraguan tersebut descartes hendak mencari pengetahuan yang tidak dapat diragukan. Yang akhirnya mengantarkan pada premisnya Cogito Ergo Sum (aku berfikir maka aku ada).
Jati diri yang seperti apa? Seiring degan peran seorang mahasiswa dalam isu kepemimpinan tak pelak menemui halangan dan rintangan, globalisasi yang tengah menyelimuti tatanan kehidupan dalam berbagai aspek masyrakat adalah tantangan kongkrit bagi mahasisa. Eksistensi dan Idealisme akan di pertaruhkan. Sejauh mana kokoh dalam kemurnian Insan Religius, Intelektual, Sosial dan Mandiri.
Dengan grand tema URGENSI NAWACITA PERGERAKAN, istilah Urgensi menunjuk pada sesuatu yang mendorong kita. Diharapkan peserta MAPABA ‘16 mengetahui pentingnya Nawacita pergerakan. Kata Nawacita adalah istilah umum yang diserap dari bahasa sansekerta, Nawa (sembilan) dan cita (harapan, keinginan). Jadi kata Nawacita Pergerakan adalah sembilan alat untuk terciptanya sebuah harapan, yang di maksudkan untuk menjadi hal paling mendasar dan fundamental bagi pola gerak dan pemikiran kader PMII. Sembilan poin yang di harapkan adalah dzikir, fikir, amal sholeh. Jujur, kebenaran, keadilan. Taqwa, Intelektual, Profesional.
Sebagaimana dzikir memiliki esensi bahwa setiap insan harus dan selalu mengingat akan keberadaan Allah SWT sebagai sang khaliq. Fikir adalah sebuah istilah dimana insan dikatakan ada apabila bisa dan mampu untuk berfikir sebagai esensi dari keberadaan manusia itu sendiri. Amal sholeh merupakan titik dimana kebanyakan kader mengasumsikannnya sebagai sebuah hasil maksimal dari setiap proses yang dia lalui. Ketiga poinini adalah sesuatu yang harus di tancapkan oleh kader PMII sejak awal.
Selanjutnya Kejujuran, Kejujuran disini merupakan suatu nilai mutlak yang harus dijadikan  karakter untuk tiap-tiap kader dalam kehidupan, yang kemudian akan tercapainya suatu Kebenaran mutlak di pola pikir  kader maupun implementasikan masing-masing kader dalam bergerak. Keadilan adalah sebuah wujud dari kejujuran dan kebenaran, kemudian menjadi pemahaman bersama bahwa sebuah keadilan harus benar-benar ditegakkan oleh tiap-tiap kader PMII.
Untuk mencapai kesempurnaan dari poin-poin diatas, ada tiga poin terhir yang harus benar-benar diimplementasikan yaitu mengetahui tentang siapa, apa dan bagaimana menempatkan diri mereka untuk melihat kondisi yang ada saat ini, yaitu Taqwa, intelektual dan Profesional. Ketaqwaan merupakan hal yang sudah harus di pahami oleh setiap kader, hal ini sudah termaktub dalam tujuan PMII itu sendiri. Intelektual adalah sebuah istilah dimana didalamnya selalu tersirat rasa kehausan akan kapasitas dan kompetensi Intelektual kader harus berdaya dan benar – benar difungsikan baik sesuai dengan disiplin ilmu yang bidangi atau yang lainnya, untuk kemudian dapat menjawab dinamika organisasi dan hal kemasyarakatan yang akan mereka pahami nanti. Profesional juga hal yang harus dipahami oleh tiap-tiap kader PMII, dalam arti Profesionalitas adalah hal yang penting sebagai pembungkus cantik setiap gerak kader PMII, karena arti profesional sangatlah luas dan implementasinya dilakukan bukan hanya ketika bergerak bersama namun dalam keadaan individual di tengah banyaknya intrik sifat profesional harus ditekankan guna nantinya akan membangun konstruk sosial yang baik.
Semua poin tersebut sudah sangat jelas bahwa, sembilan poin ini merupakan hal yang fundamental bagi pola gerak dan pemikiran kader PMII. Sesuai dari abstraksi karakter PMII yang tetap berlandaskan manhaj al-fikr ahlusunnah waljamaah. 
Disusun oleh Tim SC (KAPAK'14) Mapaba 2016 PMII Cabang Surabaya Selatan.